Seonggok Daging dan Bunga Asoka — Puisi Devi Olivia

Seonggok daging pembungkus tulang segera datang bertandang, “Akulah asmaraloka!”

Teruntuknya kudapan madu menunggu di barisan para penjamu

Lakon episodik di tahun ini menebar tuduh satu tubuh

Angin November berbisik di tubuh perdu bunga asoka

Alur hidup terlalu muskil bagi para pencandu rum

Mereka bilang, “Setangkai bunga asoka tubuh perawan riang gembira.”

Lalu para penjamu lekas merunduk menutup malu

“Pengar para suami adalah ranjang surgawi,” balas mereka.

Musim hujan tahun lalu daging pembungkus tulang telah hilang

Di ujung laut tenggara perahunya karam setelah bunga asoka dipinang

Karawang, 2020

______________

Perigi Buta

Selepas kerbau membajak sawah di waktu dulu

Petani turun dengan cangkul menggaru lumpur

Orang sana bilang, “Dada kotor adalah pria tampan!”

Orang sini bilang, “Melarat itu ya, mereka!”

Pagi hari burung gereja mulai bernyanyi

Sepiring singkong dan teh manis dinikmati petani

Di depan jalan pria berdasi turun dari lamborghini

Menggoda nyai penimba air dalam perigi

Kupu-kupu menari-nari melihat nyai telah pergi

Perigi telah mengering tanpa timbanya mengambil air

Siapa tahu priayi memboyongnya berjanji sehidup semati

Mana tahu kenyataan malah mencaci maki

Perasan lemon di atas makanan anjing

Petani tertawa kala tetangga mulai menggunjing

Mereka bilang, “Batu cuma benalu.”

Mana tahu emas justru menunggu

Karawang, 2020

______________

Pandir Tidak Bodoh

Suatu hari sang pandir belajar filosofi

Mengeja teologi dari seorang darwis jalanan

Para penghafal kalam sufi yang norak; pikirnya

Yang menarikan aksara di sosial media tanpa pedoman

Dahulu para penyair mengajak minum kopi

Memancing logika dalam berbahasa; dialektika

Darwis adalah pencandu rum kalam Tuhan

Bukan si jalang yang bermain kata serba bisa

Begitu ingatnya

Karawang, 2020

Post a Comment

Previous Post Next Post